MENGUNGKAPKAN PERASAAN MELALUI VERBAL
BAB II
MENGUNGKAPKAN PERASAAN MELALUI VERBAL
A.
PERANAN
PERASAAN DALAM KEHIDUPAN MANUSIA
We are taught how to describe our
ideas clearly and correctly. But we are rarely taught how to describe our
feelings clearly and correctly (Johnson, 1981)
Salah satu segi paling membahagiakan
dalam berkomunikasi dengan orang lain adalah kesempatan untuk saling bebagi
perasaan. Mengalami suatu perasaan dan mengungkapkannya kepada orang lain bukan
saja merupakan sumber kebahagiaan, melainkan juga merupakan salah satu
kebutuhan demi kesehatan psikologis kita. Dengan mengalami dan saling berbagi
perasaan, kita menciptakan dan mempertahankan persahabatan yang intim dengan
sesama.
Perasaan adalah
reaksi internal kita terhadap aneka pengalaman kita. Perasaan ini sering
disertai perubahan-perubahan fisiologis tertentu, seperti denyut jantung yang
meningkat dan juga memiliki tanda-tanda luar, seperti menitikkan air mata
karena haru bahagia. Perasaan selalu merupakan pengalaman internal dan kita
menggunakan bentuk-bentuk tingkah laku terbuka tertentu untuk
mengkomunikasikannya kepada orang lain. Misalnya, kita bersorak untuk
mengungkapkan perasaan gembira. Namun, tidak jarang kita mengalami kesulitan
untuk mengungkapkan perasaan-perasaan. Misalnya, seorang mahasiswa yang kelu
lidahnya tatkala hendak mengungkapkan perasaan cintanya kepada seorang gadis,
kendati teman kuliahnya sekalipun. Sebaliknya, sering kita juga mengalami
kesulitan mengendalikan pengungkapan perasaan kita. Misalnya, seorang gadis
yang merona wajahnya mendengar sanjungan dari pemuda yang menjadi idamannya.
Kita memang perlu belajar mengungkapkan perasaan-perasaan kita secara tepat.
Johson (1981)
mengemukakan suatu model lima tahap pengungkapan perasaan dalam komunikasi.
Menurutnya, setiap kali kita berkomunikasi dengan orang lain maka sebenarnya
paling sedikit terjadi lima macam proses sebagai berikut :
1.
Kita
mengamati (sensing) tingkah laku lawan komunikasi kita. Dengan alat-alat
indera yang kita miliki, kita mengumpulkan informasi tentang lawan komunikasi
kita. Misalnya, ia mengatakan apa saja, bagaimana nada suaranya, bagaimana
sorot matanya, raut mukanya, gerak-gerik tubuh dan tangannya dan sebagainya.
Pada tahap ini, informasi tersebut semata-mata bersifat deskriptif dan semua
itu kita rekam dalam pikiran dan hati kita.
2.
Kita
menafsirkan (interpreting) semua informasi yang kita terima dari lawan
komunikasi kita itu. Kita menentukan makna dari kata-kata dan perbuatannya.
Cara kita menafsirkan informasi ini ditentukan oleh sedikitnya tiga faktor,
yakni :
a.
Informasi
itu sendiri, misal kata-kata yang keluar dari mulut lawan komunikasi kita
b.
Dugaan
kita tentang hal-hal yang menyebabkan tingkah laku lawan komunikasi kita itu;
misal, ia mengeluarkan kata-kata keras, mungkin karena sedang ada masalah
dirumah atau dikantor
c.
Sudut
pandang kita sendiri; misal, kita punya keyakinan bahwa tidak ada manusia yang
sempurna
3.
Kita
mengalami perasaan tertentu (feeling) sebagai reaksi spontan terhadap
penafsiran kita atas informasi yang kita terima dari (dan tentang) lawan komunikasi
kita. Melanjutkan contoh kita diatas, misalnya kita merasa kasihan pada lawan
komunikasi itu.
4.
Selanjutnya
kita akan terdorong untuk menanggapi (intending) perasaan kita itu.
Dalam diri kita terbentuk intensi yang akan mendorong dan mengarahkan kita
untuk berbuat sejalan dengan perasaan kita. Intensi inilah yang membimbing
tindakan-tindakan yang akan kita lakukan sebagaibentuk pengungkapan perasaan
kita. Jadi, sesudah merasa kasihan, maka timbul dalam diri kita niat untuk
menolong atau menghibur lawan komunikasi kita.
5.
Mengungkapkan
(expressing) perasaan kita itu. Kita merasa kasihan, berniat
menghiburnya. Sekalipun menerima kata-kata keras, kita justru mendekati dan
meneguhkannya sebagai ungkapan rasa simpati terhadap kawan kita itu.
Jadi,
baik kata-kata maupun perbuatan dan perilaku nonverbal lain yang kita lakukan
dalam konteks seperti di atas, tidak lain sebagai pengungkapan dari sensasi,
interpretasi, perasaan dan intensi-intensi kita.
B.
AKIBAT
YANG TIMBUL BILA PERASAAN TIDAK DIUNGKAPKAN
Salah satu faktor yang sering
menjadi penghambat dalam membangun hubungan antarpribadi yang intim adalah
kesulitan mengkomunikasikan perasaan. Kita selalu mengalami perasaan tertentu
terhadap lawan komunikasi kita maupun terhadap pengalaman bersama yang kita hayati
dalam komunikasi, namun sering kita tidak mampu mengkomunikasikan perasaan kita
itu secara efektif. Aneka masalah dalam komunikasi muncul terutama bukan karena
perasaan yang kita alami itu sendiri, melainkan karena kita gagal
mengkomunikasikannya secara efektif. Perasaan-perasaan itu justru kita sangkal,
kita alihkan, kita sembunyikan atau kita represikan. Berikut ini adalah
beberapa akibat yang mungkin timbul bila perasaan-perasaan tidak kita sadari,
tidak kita terima atau tidak kita ungkapkan secara konstruktif.
1.
Menyangkal
dan menekan perasaan dapat menciptakan aneka masalah dalam hubungan
antarpribadi
2.
Menyangkal
dan menekan perasaan dapat menyulitkan kita dalam memahami dan mengatasi aneka
masalah yang terlanjur timbul dalam hubungan antarpribadi
3.
Menyangkal
perasaan dapat meningkatkan kecenderungan kita untuk melakukan persepsi secara
selektif
4.
Menyangkal
perasaan dapat menimbulkan distorsi atau penyimpangan dalam penilaian kita
5.
Dalam
pengungkapan perasaan yang tidak lugas-efektif sering justru tersirat
tuntutan-tuntutan tertentu. Misalnya, seorang ibu yang bersikap
“overprotective” karena terlampau menyayangi anaknya. Dalam situasi seperti ini
justru dapat timbul sejenis “adu kekuasaan”, sebab setiap pihak merasa memiliki
“kekuasaan”, atau kendali tertentu atas pihak yang lain. Konkretnya, si anak
dapat memanfaatan kecintaan sang ibu terhadapnya untuk mengajukan macam-macam tuntutan, sebaliknya si ibu dapat
memainkan posisinya sebagai sumber pemuas kebutuhan dalam rangka mengendalikan
anaknya.
Di pihak lain,
harus kita akui pula bahwa demi alasan tertentu, misalnya sopan-santun,
masyarakat sering menuntut kita untuk menyangkal atau menekan perasaan-perasaan
kita. Hal ini teristimewa berlaku dalam kebudayaanTimur pada umumnya dan
kebudayaan Indonesia-Jawa khususnya. Penerimaan sosial ini sering harus kita
bayar cukup mahal dengan mengorbankan kehidupan perasaan kita yang sehat-wajar.
C.
MENGUNGKAPKAN
PERASAAN SECARA VERBAL
Ada dua cara mengungkapkan perasaan,
yaitu secara verbal dan nonverbal. Yang dimaksud secara verbal adalah dengan
menggunakan kata-kata, baik yang secara langsung mendeskripsikan perasaan yang
kita alami maupun tidak. Sedangkan yang dimaksud secara nonverbal adalah dengan
menggunakan isyarat lain secara kata-kata, misalnya sorot mata, raut muka,
kepalan tinju, dan sebagainya. Untuk mengungkapkan perasaan dengan baik,
pertama kita harus menyadarinya, lalu menerimanya, kemudian mengungkapkannya
secara wajar dan terkontrol. Menurut Johnson, kalau kita tidak menyadarinya
atau sengaja kita tolak perasaan-perasaan tersebut akan terungkap juga secara
tidak langsung dalam bentuk-bentuk seperti berikut :
1.
Mencap atau memberikan label.
2.
Memerintah.
3.
Bertanya.
4.
Menuduh.
5.
Menyindir (sarkasme).
6.
Memuji.
7.
Mencela.
8.
Memberikan sebutan.
D.
BAHASA
VERBAL WANITA
Hasil
pengamatan sep intas mengenai sosialisasi wanita ditengah masyarakat telah
menghasilkan berbagai stereotip tentang perilaku komunikasi mereka, misalnya
wanita berbicara lebih sopan dari pada pria, pembicaraan mereka tidak tegas,
lebih sering bergosip daripada pria, bertele-tele, lebih emosional dan lebih
terperinci.
Hasil
intropeksi dan observasi Robin Lakoff (1975) dalam Mulyana (1999), bahwa wanita
mempunyai bahasa tersendiri dengan ciri-ciri berikut :
a.
Kosakata
khusus yang berkaitan dengan minat mereka, misalnya dibandingkan pria mereka
mengenal lebih banyak warna, seperti magenta, chartreuse, ecru, mauve, puce
b.
Kata-kata
sifat yang hambar (empty adjectives), seperti divine, charming, cute, sweet,
adorable, lovely
c.
Kalimat-kalimat
dengan menggunakan ekor tanya (tag question), seperti “sarah is here, isn’t
she?”alih-alih “is sarah here?”
d.
Kata-kata
penguat (intesifiers), misalnya so, very
e.
Berbagai
kata atau frase yang melemahkan, seperti “it is sort of hot in here”; it
seems like...
f.
Tata
bahasa dan ucapan yang hiperkorek (resmi)
g.
Frase-frase
yang sangat sopan, seperti” i’d really appreciate it if...”; “would you
please...” dan sebagainya.
h.
Kutipan
langsung, alih-alih para frase sendiri.
i.
Intonasi
pertanyaan dalam konteks deklaratis, misalnya sebagai jawaban atas pertanyaan “when
will the dinner be ready?” adalah “Arround 6 o’clock?” seolah-olah
mencari persetujuan dan bertanya apakah waktu tersebut sesuai[1]
DAFTAR PUSTAKA
Sihabudin, Ahmad, komunikasi antar budaya, 2013, jakarta, bumi
aksara
Komentar
Posting Komentar