KETERAMPILAN KONSELOR DALAM PENGAPLIKASIAN KONSELING



PEMBAHASAN

A.    Pengertian keterampilan konseling
Ada beberapa istilah yang dipakai untuk menamakan teknik konseling, yaitu ketrampilan konseling, strategi konseling, dan teknik konseling. Semua istilah tersebut mengandung penngertian yakni cara yang digunakan oleh seorang konselor dalam hubungan konseling untuk membantu klien agar berkembang potensinya serta mampu mengatasi masalah yang dihadapi dengan mempertimbangkan kondisi-kondisi lingkungan, yakni nilai-nilai sosial, budaya, dan agama.

Bagi seorang konselor menguasai teknik konseling adalah mutlak. Sebab dalam proses konseling teknik yang baik merupakan kunci keberhasilan untuk mencapai tujuan konseling.  Seorang konselor yang efektif harus mampu merespon klien dengan teknik yang benar. Sesuai keadaan klien saat itu. Respon yang baik adalah pertanyaan-pertanyaan verbal dan nonverbal yang dapat menyentuh, merangsang dan mendorong sehingga klien terbuka menyatakan dengan bebas perasaan, pikiran dan pengalamannya. Selanjutnya klien harus terlibat dalam mendiskusikan mengenai dirinya bersama konselor.

Respon konselor terhadap klien mencakup dua sasaran yaitu (1) perilaku verbal, dan; (2) perilaku nonverbal. Perilaku verbal mencakup semua pertanyaan baik itu kalimat-kalimat yang panjang, singkat, maupun kalimat yang terpotong-potog seperti oh, aduh, yah, dan sebagainya. Sedangkan perlaku noverbal adalah semua perilaku bahasa tubuh berupa isyarat, posisi tubuh, ekspresi wajah, kontak mata, letak tangan, anggukan kepala, jarak duduk, dan posisi kaki.
Jadi, teknik Bimbingan dan Konseling adalah cara atau metode yang dilakukan untuk membantu, mengarahkan atau memandu seseorang atau sekelompok orang agar menyadari dan mengembangkan potensi-potensi dirinya, serta mampu mengambil sebuah keputusan dan menentukan tujuan hidupnya dengan cara berinteraksi atau bertatap muka.
B.     Macam-Macam Teknik Konseling
      1.            Perilaku Attending
Perilaku attending disebut juga perilaku menghampiri klien yang mencakup komponen kontak mata, bahasa tubuh, dan bahasa lisan. Perilaku attending yang baik adalah merupakan kombinasi ketiga komponen tersebut sehingga memudahkan konselor untuk membuat klien terlibat pembicaraan dan terbuka. Attending yang baik  dapat:
a.      Meningkatkan harga diri klien; sebab sikap dan perilaku attending memungkinkan konselor menghampiri klien. Karena dia dihargai, maka merasa harga diri ada atau meningkat.
b.      Menciptakan suasana yang aman; dengan perilaku ini klien merasa aman, karena klien merasa ada orang yang bisa dipercayai, teman untuk berbicara, dan merasa terlindungi secara emosional.
c.       Mempermudah ekspresi perasaan klien dengan bebas; memberikan keyakinan kepada klien bahwa konselor adalah tempat dia mudah untuk mencurahkan segala isi hati dan perasaannya. Berikut akan dikemukakan contoh perilaku attending yang baik :
a.      Kepala; melakukan anggukan jika setuju.
b.       Ekspresi wajah; tenang, ceria, senyum.
c.       Posisi tubuh; agak condong ke arah klien, jarak antara konselor dengan klien agak dekat, duduk akrab berhadapan atau berdampingan.
d.      Tangan; variasi gerakan tangan/lengan spontan berubah-ubah, menggunakan tangan sebagai isyarat, menggunakan gerakan tangan untuk menekankan ucapan.
e.       Mendengarkan; aktif penuh perhatian, menunggu ucapan klien hingga selesai, diam (menanti saat kesempatan bereaksi), perhatian terarah pada lawan bicara.
Adapun contoh perilaku attending yang tidak baik :
a.      Kepala; kaku
b.      Muka; kaku, ekspresi melamun, mengalihkan pandangan, tidak melihat saat klien sedang bicara, mata melotot.
c.       Posisi tubuh; tegak kaku, bersandar, miring, jarak duduk dengan klien menjauh, duduk kurang akrab dan berpaling.
d.      Memutuskan pembicaraan, berbicara terus tanpa ada teknik diam untuk memberi kesempatan klien berfikir dan berbicara.
e.       Perhatian; terpecah, mudah buyar oleh gangguan luar.
2. Empati
Empati ialah kemampuan konselor untuk merasakan apa yang dirasakan klien, merasa dan berfikir bersama klien dan bukan untuk atau tentang klien. Empati dilakukan sejalan dengan perilaku attending, tanpa perilaku attending mustahil terbentuk empati. Terdapat dua macam empati, yaitu :
  1. Empati primer, yaitu bentuk empati yang hanya berusaha memahami perasaan, pikiran dan keinginan klien, dengan tujuan agar klien dapat terlibat dan terbuka.Contoh ungkapan empati primer :” Saya dapat merasakan bagaimana perasaan Anda”. ” Saya dapat memahami pikiran Anda”.” Saya mengerti keinginan Anda”.
  2. Empati tingkat tinggi, yaitu empati apabila kepahaman konselor terhadap perasaan, pikiran keinginan serta pengalaman klien lebih mendalam dan menyentuh klien karena konselor ikut dengan perasaan tersebut. Keikutan konselor tersebut membuat klien tersentuh dan terbuka untuk mengemukakan isi hati yang terdalam, berupa perasaan, pikiran, pengalaman termasuk penderitaannya. Contoh ungkapan empati tingkat tinggi : Saya dapat merasakan apa yang Anda rasakan, dan saya ikut terluka dengan pengalaman Anda itu”.
  3. Refleksi
Refleksi adalah teknik untuk memantulkan kembali kepada klien tentang perasaan, pikiran, dan pengalaman sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbalnya. Terdapat tiga jenis refleksi, yaitu :
a.       Refleksi perasaan, yaitu keterampilan atau teknik untuk dapat memantulkan perasaan klien sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbal klien. Contoh : ” Tampaknya yang Anda katakan adalah ….”
  1. Refleksi pikiran, yaitu teknik untuk memantulkan ide, pikiran, dan pendapat klien sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbal klien.Contoh : ” Tampaknya yang Anda katakan…”
  2. Refleksi pengalaman, yaitu teknik untuk memantulkan pengalaman-pengalaman klien sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbal klien. Contoh : ” Tampaknya yang Anda katakan suatu…”
4.      Eksplorasi
Eksplorasi adalah teknik untuk menggali perasaan, pikiran, dan pengalaman klien. Hal ini penting dilakukan karena banyak klien menyimpan rahasia batin, menutup diri, atau tidak mampu mengemukakan pendapatnya. Dengan teknik ini memungkinkan klien untuk bebas berbicara tanpa rasa takut, tertekan dan terancam. Seperti halnya pada teknik refleksi, terdapat tiga jenis dalam teknik eksplorasi, yaitu :
a.       Eksplorasi perasaan, yaitu teknik untuk dapat menggali perasaan klien yang tersimpan. Contoh :” Bisakah Anda menjelaskan apa perasaan bingung yang dimaksudkan ….”
  1. Eksplorasi pikiran, yaitu teknik untuk menggali ide, pikiran, dan pendapat klien. Contoh : ” Saya yakin Anda dapat menjelaskan lebih lanjut ide Anda tentang sekolah sambil bekerja”.
  2. Eksplorasi pengalaman, yaitu keterampilan atau teknik untuk menggali pengalaman-pengalaman klien. Contoh :” Saya terkesan dengan pengalaman yang Anda lalui Namun saya ingin memahami lebih jauh tentang pengalaman tersebut dan pengaruhnya terhadap pendidikan Anda”
5.      Menangkap Pesan (Paraphrasing)
Menangkap Pesan (Paraphrasing) adalah teknik untuk menyatakan kembali esensi atau initi ungkapan klien dengan teliti mendengarkan pesan utama klien, mengungkapkan kalimat yang mudah dan sederhana, biasanya ditandai dengan kalimat awal : adakah atau nampaknya, dan mengamati respons klien terhadap konselor.
Tujuan paraphrasing adalah : (1) untuk mengatakan kembali kepada klien bahwa konselor bersama dia dan berusaha untuk memahami apa yang dikatakan klien; (2) mengendapkan apa yang dikemukakan klien dalam bentuk ringkasan ; (3) memberi arah wawancara konseling; dan (4) pengecekan kembali persepsi konselor tentang apa yang dikemukakan klien.
Contoh dialog :
Klien : ” Itu suatu pekerjaan yang baik, akan tetapi saya tidak mengambilnya. Saya tidak tahu mengapa demikian ? ”
Konselor : ” Tampaknya Anda masih ragu.”
6.      Pertanyaan Terbuka (Opened Question)
Pertanyaan terbuka yaitu teknik untuk memancing siswa agar mau berbicara mengungkapkan perasaan, pengalaman dan pemikirannya dapat digunakan teknik pertanyaan terbuka (opened question). Pertanyaan yang diajukan sebaiknya tidak menggunakan kata tanya mengapa atau apa sebabnya. Pertanyaan semacam ini akan menyulitkan klien, jika dia tidak tahu alasan atau sebab-sebabnya. Oleh karenanya, lebih baik gunakan kata tanya apakah, bagaimana, adakah, dapatkah.
Contoh : ” Apakah Anda merasa ada sesuatu yang ingin kita bicarakan sekarang ?  ”
7.      Pertanyaan Tertutup (Closed Question)
Dalam konseling tidak selamanya harus menggunakan pertanyaan terbuka, dalam hal-hal tertentu dapat pula digunakan pertanyaan tertutup, yang harus dijawab dengan kata Ya atau Tidak atau dengan kata-kata singkat. Tujuan pertanyaan tertutup untuk : (1) mengumpulkan informasi; (2) menjernihkan atau memperjelas sesuatu; dan (3) menghentikan pembicaraan klien yang melantur atau menyimpang jauh.
Contoh dialog :
Klien : ”Saya berusaha meningkatkan prestasi dengan mengikuti belajar kelompok yang selama ini belum pernah saya lakukan”.
Konselor: ”Biasanya Anda menempati peringkat berapa ? ”.
Klien : ” Empat ”
Konselor: ” Sekarang berapa ? ”
Klien : ” Sebelas ”
8.      Dorongan minimal (Minimal Encouragement)
Dorongan minimal adalah teknik untuk memberikan suatu dorongan langsung yang singkat terhadap apa yang telah dikemukakan klien. Misalnya dengan menggunakan ungkapan : oh…, ya…., lalu…, terus….dan… Tujuan dorongan minimal agar klien terus berbicara dan dapat mengarah agar pembicaraan mencapai tujuan. Dorongan ini diberikan pada saat klien akan mengurangi atau menghentikan pembicaraannya dan pada saat klien kurang memusatkan pikirannya pada pembicaraan atau pada saat konselor ragu atas pembicaraan klien.
Contoh dialog :                       
Contoh dialog :
Klien               : ” Saya kehilangan pegangan… dan saya...berbuat
Konselor         : ” ya…”
Klien               : ” nekad...
Konselor          : ” lalu”
9.      Interpretasi
Yaitu teknik untuk mengulas pemikiran, perasaan dan pengalaman klien dengan merujuk pada teori-teori, bukan pandangan subyektif konselor, dengan tujuan untuk memberikan rujukan pandangan agar klien mengerti dan berubah melalui pemahaman dari hasil rujukan baru tersebut.
Contoh dialog :
Klien : ” Saya pikir dengan berhenti sekolah dan memusatkan perhatian membantu orang tua merupakan bakti saya pada keluarga, karena adik-adik saya banyak dan amat membutuhkan biaya.”
Konselor : ” Pendidikan tingkat SMA pada masa sekarang adalah mutlak bagi semua warga negara. Terutama hidup di kota besar seperti Anda. Karena tantangan masa depan makin banyak, maka dibutuhkan manusia Indonesia yang berkualitas. Membantu orang tua memang harus, namun mungkin disayangkan jika orang seperti Anda yang tergolong akan meninggalkan SMA”.
10.  Mengarahkan (Directing)
Yaitu teknik untuk mengajak dan mengarahkan klien melakukan sesuatu. Misalnya menyuruh klien untuk bermain peran dengan konselor atau menghayalkan sesuatu.

Klien : ” Ayah saya sering marah-marah tanpa sebab. Saya tak dapat lagi menahan diri. Akhirnya terjadi pertengkaran sengit.”
Konselor : ” Bisakah Anda mencobakan di depan saya, bagaimana sikap dan kata-kata ayah Anda jika memarahi Anda.”

11.  Menyimpulkan Sementara (Summarizing)
Yaitu teknik untuk menyimpulkan sementara pembicaraan sehingga arah pembicaraan semakin jelas. Tujuan menyimpulkan sementara adalah untuk : (1) memberikan kesempatan kepada klien untuk mengambil kilas balik dari hal-hal yang telah dibicarakan; (2) menyimpulkan kemajuan hasil pembicaraan secara bertahap; (3) meningkatkan kualitas diskusi; (4) mempertajam fokus pada wawancara konseling.
Contoh :
” Setelah kita berdiskusi beberapa waktu alangkah baiknya jika simpulkan dulu agar semakin jelas hasil pembicaraan kita. Dari materi materi pembicaraan yang kita diskusikan, kita sudah sampai pada dua hal: pertama, tekad Anda untuk bekerja sambil kuliah makin jelas; kedua, namun masih ada hambatan yang akan hadapi, yaitu : sikap orang tua Anda yang menginginkan Anda segera menyelesaikan studi, dan waktu bekerja yang penuh sebagaimana tuntutan dari perusahaan yang akan Anda masuki.”
12.  Memimpin (Leading)
Agar pembicaraan dalam wawancara konseling tidak melantur atau menyimpang, seorang konselor harus mampu memimpin arah pembicaraan sehingga nantinya mencapai tujuan. Keterampilan memimpin bertujuan agar Klien tidak menyimpang dari fokus pembicaraan dan juga agar arah pembicaraan lurus kepada tujuan Konseling.
Contoh:
Klien: “Saya mungkin berpikir juga tentang masalah hubungan dengan pacar. Tapi bagaimana ya…?”
Konselor: “Sampai saat ini kepedulian Saudara tertuju kepada kuliah sambil bekerja. Mungkin Anda tinggal merinci kepedulian itu. Mengenai pacaran apakah termasuk dalam kerangka kepedulian Anda juga? ”
13.   Fokus
Seorang konselor yang efektif harus mampu membuat fokus melalui perhatiannya yang terseleksi terhadap pembicaraan dengan klien. Fokus membantu klien untuk memusatkan perhatian pada pokok pembicaraan. Ada beberapa fokus yang dapat dilakukan seorang Konselor yaitu:

a.       Fokus pada diri klien
Contoh,
Konselor: “Tanti, Anda tidak yakin apa yang akan Anda lakukan.”
Konselor: “Tampaknya Anda berjuang sendiri.”
b.       Fokus pada orang lain
Contoh,
Konselor: “Roni telah membuat kamu menderita. Terangkanlah tentang dia, dan apa yang telah dilakukannya.”
c.        Fokus pada topik
Contoh,
Konselor: “Pengguguran kandungan? Kamu memikirkan aborsi? Sebaiknya pikirkan masak-masak dengan berbagai pertimbangan.”
d.       Fokus mengenai budaya
Contoh,
Konselor: “Mungkin budaya menyerah dan mengalah terhadap laki-laki harus diatasi sendiri oleh kaum wanita. Wanita tidak boleh menjadi objek laki-laki.”
Secara umum, dalam wawancara konseling selalu ada fokus yang membantu klien untuk menyadari bahwa persoalan pokok yang dihadapinya adalah “X”. misalnya mungkin banyak masalah yang berkembang dalam diskusi dengan klien, akan tetapi konselor harus membantu klien agar dia menentukan fokus pada permasalahannya.
Konselor: “Apakah tidak baik jika pokok pembicaraan kita berkisar saja dulu soal hubungan Anda yang retak dengan pacar Anda?”
14.   Konfrontasi
Konfrontasi adalah suatu teknik konseling yang menantang klien untuk melihat adanya diskrepansi atau inkonsistensi antara perkataan dengan bahasa badan (perbuatan), ide awal dengan ide berikutnya, senyum dengan kepedihan dan sebagainya. Adapun tujuan teknik ini adalah untuk:
a.       Mendorong Klien mengadakan penelitian diri secara jujur.
b.      Meningkatkan potensi Klien.
c.       Membawa klien kepada kesadaran adanya diskrepansi konflik atau kontradiksi dalam dirinya.
Namun seorang Konselor harus melakukan dengan teliti yaitu dengan:
a.       Memberi komentar khusus terhadap klien yang tidak konsisten dengan cara tepat waktu.
b.      Tidak menilai apalagi menyalahkan
c.       Dilakukan konselor dengan perilaku attending dan empati
Contoh dialog:
Klien: “Oh…, saya baik-baik saja.” (suara rendah, wajah tidak cerah, posisi tubuh gelisah)
Konselor: “Anda katakan baik-baik saja tapi kelihatannya ada sesuatu yang tidak beres.”, Atau Konselor: “Saya lihat ada perbedaan antara ucapan Anda dengan kenyataan diri”.
15.   Menjernihkan (Clarifying)
Menjernihkan adalah suatu keterampilan untuk menjernihkan ucapan-ucapan klien yang samar-samar, kurang jelas, dan agak maragukan. Tujuannya adalah mengundang klien untuk menyatakan pesannya dengan jelas, ungkapan kata-kata yang tegas, dan dengan alasan-alasan yang logis dan agar klien menjelaskan, mengulang, dan mengilustrasikan perasaannya.
Klien: “Perubahan yang terjadi di keluarga saya membuat saya bingung dan Konflik. Saya tidak mengerti siapa yang menjadi pemimpin di rumah itu.”
Konselor: “Bisakah Anda menjelaskan persoalan po
koknya? Misalnya peran ayah, ibu atau Saudara-Saudara Anda”
16.  Memudahkan (Facilitating)
Facilitating adalah suatu keterampilan membuka komunikasi agar klien dengan mudah berbicara dengan konselor dan menyatakan perasaan, pikiran dan pengalamannya secara bebas sehingga komunikasi dan partisipasi meningkat dan proses konseling berjalan efektif.
Konselor: “Saya yakin Anda akan berbicara padanya, karena saya akan mendengarkan dengan sebaik-baiknya.”
17.  Diam
Banyak orang bertanya tentang kedudukan diam dalam kerangka proses konseling. Apakah diam itu teknik konseling? Sebenarnya diam adalah amat penting dengan cara attending. Diam bukan berarti tidak ada komunikasi akan tetapi tetap ada yaitu melalui perilaku nonverbal. Yang paling ideal diam itu paling tinggi 5-10 detik dan selebihnya dapat diganti dengan dorongan minimal. Akan tetapi jika konselor menunggu klien yang sedang berpikir mungkin diamnya bisa lebih dari 5 detik. Hal ini tergantung feeling konselor.
Tujuan diam adalah: (1) menanti klien sedang berpikir (2) sebagai protes jika klien ngomong berbelit-belit (3) menunjang perilaku attending dan empati sehingga klien bebas berbicara.
Contoh:
Klien: “Saya tidak senang dengan perilaku guru itu…dan saya…” (berpikir)
Konselor: “……….” (diam)
Klien: “Saya…harus bagaimana…saya tidak tahu…”
Konselor: “……….” (diam).
18.   Mengambil inisiatif
Mengambil inisiatif perlu dilakukan konselor manakala klien kurang bersemangat untuk berbicara, sering diam, dan kurang partisipatif. Konselor mengucapkan kata-kata yang mengajak klien untuk berinisiatif dalam menuntaskan diskusi. Tujuan teknik ini adalah:
a.       Mengambil inisiatif jika Klien kurang bersemangat.
b.      Jika Klien lambat berfikir untuk mengambil keputusan.
c.       Jika Klien kehilangan arah pembicaraan.
Contoh,
Konselor: “Baiklah, saya pikir Anda mempunyai satu keputusan namun masih belum keluar. Coba Anda renungkan lagi ”
19.   Memberi nasehat
Pemberian nasehat sebaiknya dilakukan jika klien memintanya. Walaupun demikian, Konselor tetap harus mempertimbangkannya, apakah pantas untuk memberi nasehat atau tidak. Sebab dalam memberi nasehat tetap dijaga agar tujuan konseling yakni kemadirian klien, harus tercapai.
Contoh responden konselor terhadap permintaan Klien;
Konselor: “Sebelum saya memberi nasehat, saya pikir dalam hal ini Saudara lebih banyak mempunyai informasi dibanding saya”.
20.   Pemberian informasi
Dalam hal informasi yang diminta klien sama halnya dengan pemberian nasehat. Jika Konselor tidak memiliki informasi sebaiknya dengan jujur katakan bahwa tidak mengetahui hal itu. Akan tetapi, jika konselor mengetahui informasi, sebaiknya upayakan agar Klien tetap mengusahakannya. Misalnya klien menanyakan persyaratan untuk memasuki sekolah penerbang. Karena konselor kurang menguasai informasi itu, sebaiknya klien langsung saja mencari informasi tersebut ke sumbernya seperti Direktorat Penerbangan atau sekolah penerbangan.

Contoh respon konselor adalah
Konselor: “Mengenai informasi sekolah penerbangan saya sama sekali tidak menguasainya. Karena itu saya sarankan Anda langsung saja ke Direktrorat Penerbangan atau sekolah penerbangan yang bersangkutan”
21.   Merencanakan
Menjelang akhir sesi konseling seorang konselor harus dapat membantu klien untuk dapat membuat rencana berupa suatu program untuk action, perbuatan nyata yang produktif bagi kemajuan dirinya. Suatu rencana yang baik adalah kerjasama konselor dengan Klien. Secara teknis konselor mungkin berkata pada klien seperti Konselor: “Nah Saudara, apakah tidak lebih baik jika Anda mulai menyusun rencana yang baik berpedoman hasil pembicaraan kita sejak tadi.”
22.  Menyimpulkan
Pada akhi sesi konseling, konselor membantu klien untuk menyimpulkan hasil pembicaraan yang menyangkut:
a.        Bagaimana keadaan perasaan klien saat ini terutama mengenai kecemasan.
b.      Memantapkan rencana klien.
c.       Pokok-pokok yang akan dibicarakan pada sesi berikut. Misalnya konselor berkata kepada klien “Apakah sudah dapat kita buat kesimpulan akhir?”
Proses konseling terdiri atas tiga tahapan, yaitu:
a.       Tahapan awal atau tahap mendefinisikan masalah
b.      Tahap pertengahan atau disebut juga tahap kerja
c.       Tahap akhir atau tahap perubahan dan tindakan (action).
Walaupun setiap tahapan konseling mempunyai teknik-teknik seperti yang dikemukakan di atas, tidak berarti aturannya seperti itu. Artinya seorang konselor dengan kemampuan dan seni akan melakukan konseling dengan teknik-teknik yang bervariasi dan berganda (multi technique). Hal ini terjadi karena setiap klien berbeda kepribadian (kemampuan, sikap, motivasi kehadiran, temperamen), respon lisan dan bahasa badan sebagainya.
Pengertian teknik bervariasi dan berganda adalah: (1) bisa saja teknik di Tahap Awal digunakan di tahap pertengahan dan akhir. Sebagai contoh attending, empati, bertanya, dorongan minimal, bisa dipakai pada semua tahapan konseling; (2) respon konselor mungkin meliputi satu, dua atau lebih teknik konseling (multi technique).
Contoh 1Konselor: “Bolehkah saya mendengarkan lebih rinci perasaan malas yang Saudara katakan tadi?” (bertanya terbuka, eksplorasi perasaan).
Contoh 2
Konselor: “Ya,…lalu…, mmh…, apa perasaan Saudara saat itu?” (dorongan minimal, bertanya eksplorasi perasaan.)
Contoh 3 Konselor: “Saya lihat Anda begitu gugup, dan saya memahami kecemasan Anda. Sebaiknya Anda jelaskan pengalaman Anda dengan orang tersebut.” (refleksi perasaan, empati primer, eksplorasi pengalaman).
Dari respon Konselor dalam contoh 1, 2, dan 3, masih dapat dimasukkan teknik attending dan empati (primer dan advance), sehingga akan manjadi lebih dari tiga teknik sekali respon (multi technique).

Komentar

  1. lengkap dan mudah dipahami pembahasannya,
    berbicara masalah keterampilan, ada banyak cara dan upaya yang harus direncanakan dan dilakukan atau diaplikasikan oleh seorang konselor yang profesional agar proses konselingnya mencapai tujuan. yang mau saya tanyakan kepada pemakalah adalah bagimana pendapat anda jika seorang konselor yang begitu sangat terampil dalam menangani kliennya kemudian pada tahap tindak lanjutnya ternyata masalah si klien bukan selesai malah justru bertambah masalahnya dan si klien merasa kuang senang dengan hal itu, bahkan meminta pertanggung jawaban konselor, anda sebagai konselor apa yang harus anda lakukan??

    BalasHapus
    Balasan
    1. baik, konselor harus berdiskusi kembali dengan klien, bisa jadi klien rekayasa dalam menceritakan masalahnya, mengenai klien meminta pertanggungjawaban dari konselor karena merasa kurang nyaman, konselor menjelaskan bahwa klien harus bertanggung jawab atas masalahnya, peran konselor hanya membantu mengarahkan, bukan konselor yg menyelesaikan masalah, tapi klien itu sendiri

      Hapus
  2. Saya ingin bertanya tentang perbedaan teknik eksplorasi dan refleksi dimana?. Kemudian untuk penerapan teknik diam pada klien yang berbelit. Jadi yg jadi pertanyaan saya bagaimana cara menggunakan teknik diam dan klien juga tidak terkesan bahwasanya "dia diam karena tidak peduli saya". Memang yg kita maksud teknik ini agar klien sadar bahwa ia sudah berbelit bicaranya, namun tidak semua klien paham maksud pesan komunikasi kita tanpa kita jelaskan. Terimakasih :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Refleksi merupakan sebuah teknik yang digunakan konselor dalam menanggapi pembicaraan konseli dengan memantulkan kembali kepada konseli tentang perasaan, pikiran, sikap dan pengalaman konseli. contoh nya refleksi perasaan
      Contoh:

      Konseli           : “teman saya dikost kurang ajar, masak gara-gara sepatu tidak teratur rapi dia buang ke tong sampah, saya benar-benar membencinya.”

      Konselor         : “nampaknya anda sungguh-sungguh marah”.
      kemudian explorasi adalah teknik untuk menggali perasaan, pikiram dan pengalaman klien, contohnya
      klien : saya takut buk.
      konselor : 1). takut kenapa ani ?. 2). apa yang membuat ani takut?
      kemudian mengenai teknik diam, jika ada klien yg protes tentang kobselor diammm aja, makan konselor menjelaskan maksud diam itu, agar tidak terjadi kesalahpahaman antara klien dengan konselor, terus kalo klien berbelit belit pakek teknik memimpin (leading), teknik ini bertujuan agar klien tidak menyimpang dari fokus pembicaraan dan juga agar arah pembicaraan lurus kpd tujuan konseling, jika klien protes tentang apapun mengenai konselor, konselor menjelaskan maksudnya, jgn sampai klien merasa tidak diperhatikan oleh konselor

      Hapus
  3. Kmren tepatnya hari sabtu siang, anggota klmpok mnjelskan tentang tehnik dorongan mnmal(oh, terus, yaa, lalu, dll), yg ingin saya tanyakan bagaimana jika kita mnmukan kliennya yg lebih tua dan sedkit lantam, dan ia mengatakan: "dari tdi saya bercerta tapi kamu hanya mngatakan kalimat iya, lalu dan sambl mngangguk kpala, saya kira tdinya kamu bisa mmbantu mnyelesaikan msalah saya". Nah bagaimana peran atau respon konselor yg semestinya dbrikan terhdap klien yg sperti itu?

    BalasHapus
    Balasan
    1. klien mungkin tidak paham respon konselor iyaa iyaaa iyaaa. mgkin klien akan blg seperti ini "bpk/ibu dari tadi iyaaa iyaaa yaaa aja, bpk/ibu dengar gak sih apa yg saya bicarakan" 
      konselor : pak/ibu saya merepon iyaa iyaa yaa aja, lalu, kemudian itu tandanya bahwa saya sedang memperhatikan bapak/ibu, saya sedang mendengarkan cerita ibu/bapak, ada ada disini untuk bapak/ibu berbagi cerita, atau respon lainnya, intinya konselor menjelaskan kpd klien mengapa respon konselor seperti itu😊

      Hapus
    2. menurut saya, dalam proses konseling memang perlu adanya dorongan minimal, agar klien lebih terbuka dalam bercerita, dan lebih memudahkan konselor dalam menemukan informasi lanjut tentang klien, namun dorongan minimal yang digunakan tidaklah berlebihan yang berarti tidak setiap pembicaraan klien konselor hanya mengatakan iya, lalu dan sebagainya. dorongan minimal digunakan ketika klien nampak ada sesuatu yang ingin diceritakan namun tiba2 dia berhenti, nah, disitulah tempat yang cocok digunakannya dorongan minimal,
      terimakasih

      Hapus
  4. Berbicara tentang teknik, ini merupakan ketrampilan yang harus dimiliki oleh konselor. Yang ingin saya tanyakan, apabila ada klien yang resisten dan tidak mau mengungkapkan sepatah katapun ketika konseling, apa yang harus konselor lakukan, dan teknik apa yang cocok untuk membangun raport pada klien yang hanya diam ketika konseling?

    BalasHapus
    Balasan
    1. mengenai klien yang enggan bicara, konselor menggunakan teknik pertanyaan terbuka, Pertanyaan yang diajukan sebaiknya tidak menggunakan kata tanya mengapa atau apa sebabnya. Pertanyaan semacam ini akan menyulitkan klien, jika dia tidak tahu alasan atau sebab-sebabnya. Oleh karenanya, lebih baik gunakan kata tanya apakah, bagaimana, adakah, dapatkah.
      Contoh : ” Apakah Anda merasa ada sesuatu yang ingin kita bicarakan sekarang ? ”. jika klien emng betul2 enggan dalam bicara, konselor menjelaskan pengertian konseling, tujuan, manfaat dan asas konseling, agar klien lebih terarah dan lebih paham terhadap proses layanan konseling. dalam proses konseling seorang klien harus terbuka agar proses konseling berjalan dengan lancar, sesuai dengan asas kesukarelaan, bukan keterpaksaan😁

      Hapus
  5. Berbicara tentang contoh prilaku attending, saya ingin bertanya pada point D.memutuskan pembicaraan.
    Jadi kita seorng konselor kan tau ketika klien itu berbicara atau mengungkapkan maslah nya itu benar atau tidak, bisa dilihat dari mimik wajah, gerakan tubuh.
    Pertanyaan nya "apakah boleh seorang konselor memutuskan pembicaraan klien ketika konselor tahu apa yng dibicarakan klien itu bohong atau tidak benar,? di lihat dari mimik muka, gerakan tubuh dll

    BalasHapus
    Balasan
    1. seorang konselor tidak boleh menerka klien, itu ngejudge klien, nah sedangkan ngejudge (menghakimi) klien itu enggak boleh dalam prinsip konseling, jadi konselor harus afirmasi kepada klien, konselor boleh menggunakan teknik konfrontasi dan teknik pertanyaan tertutup agar klien terarah kembali. Konselor tidak boleh memutuskan pembicaraan klien, karna jika itu terjadi, klien merasa tidak nyaman atau merasa tidak dihargai, jadi konselor menunggu klien diam, kemudian menggunakan teknik yg sesuai dengan kebutuhan. semoga cukup membantu☺

      Hapus
  6. izin saya bertanya ..
    salah satu teknik konseling yaitu empati, penulis juga meyatakan empati dibagi dua yaitu :empati primer, dengan contoh ungkapan empati primer :” Saya dapat merasakan bagaimana perasaan Anda”.
    Empati tingkat tinggi, dengan contoh ungkapan empati tingkat tinggi : Saya dapat merasakan apa yang Anda rasakan, jadi dimanakah letak perbedaan ungkapan empati primer dan tingkat tinggi, adakah contoh lain dalam empati tingkat tinggi, dan apabila empati tingkat tinggi digunakan dalam proses konseling apakah itu tidak akan berlebihan ? terimakasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Teknik empati disesuaikan dengan kondisi, empati primer digunakan saat klien menceritakan masalahnya yg belum mendalam, kemudian empati tingkat tinggi digunakan ketika klien menceritakan masalahnya lebih dalam, dan klien menunjukkan ekspresi yg sgt mnyedihkan. Empati tingkat tinggi tidak akan berlebihan jika sesuai dengan penempatannya, yaitu ketika masalahnya benar-benar menyedihkan atau benar-benar memprihatinkan, tidak rekayasa dan nampak dari perilaku verbal dan nonverbal klien. contoh lain empati tingkat tinggi : Saya dapat merasakan apa yang Anda rasakan, dan saya ikut terluka dengan pengalaman Anda itu”.

      Hapus
  7. assalamualaikum. saya mau bertanya pada pemakalah. dalam teknik konseling itu ada yang namanya summarizing (memyimpulkan sementara). yang jadi pertanyaan saya jika klien itu menjelaskan nonverbalnya ternyata tidak seperti yang verbal nya itu bagaimana cara konselor menyimpulkan masalahnya. karna dalam komunikasi itu ada dua verbal dan non verbal.jika ternyata nonverbal tidak sesuai dengan verbal itu bagaimana?
    terima kasih

    BalasHapus
  8. Mohon maaf izin bertanya
    Dalam teknik ada yang namanya pemberian nasihat, pemberian nasehat ini dilakukan atas persetujuan klien , yang ingin saya tanyakan bagaimana dengan klien yang tidak tahu mau bertindak apa dan pasrah, dan juga berjiwa keras dan ia perlu ketegasan dan juga yang dia mahu untuk saat ini adalah nasihat . dari dia bercerita berputar2 yg intinya itu ia ingin nasehat , itu macam mana ? Dan juga bentuk nasihat yg bagaimana yg bisa digunakan ?
    Dan satu lagi teknik memimpin, memimpin yg bagaimana ?

    BalasHapus
  9. Saya ingin bertanya, apakah seorang konselor boleh berprasangka terhadap klien?

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENGUNGKAPKAN PERASAAN MELALUI VERBAL

ADVOKASI DAN MEDIASI (Bimbingan dan Konseling)